Dari Praktik Inklusif di Rainbow hingga Dialog Akademik: Lahirnya Gagasan CANA

Bandung — Gagasan CANA (Collaborative Activation for Nurturing Awareness) yang kini menjadi bahan dialog akademik lintas disiplin berawal dari praktik pendidikan inklusif yang berlangsung di Rainbow Children Intervention and Learning Center, sebuah ruang pendampingan anak yang berada di bawah naungan Yayasan Lentera Sanggar Rainbow.

Berbagai pengalaman pendampingan anak, interaksi dengan keluarga, serta refleksi terhadap proses belajar dan perkembangan anak menjadi titik awal munculnya kebutuhan untuk membaca manusia secara lebih utuh dalam pendidikan.

Praktik-praktik tersebut kemudian dianalisis secara konseptual oleh Dr. Ranti Novianti, yang terlibat sebagai konsultan di Children Intervention and Learning Center tersebut. Dari proses refleksi dan analisis ini muncul kesadaran bahwa berbagai pengalaman praktik pendidikan tersebut membutuhkan penguatan kerangka berpikir yang lebih luas dan lintas disiplin.

Menurut Ranti, proses belajar manusia tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif, tetapi juga melibatkan dimensi emosi, relasi manusia, kesadaran, bahasa, serta kesehatan mental.

Dari refleksi tersebut kemudian berkembang gagasan Paradigma Neurohumanistik, yang mencoba mengintegrasikan berbagai perspektif ilmu untuk memahami manusia dan pendidikan secara lebih menyeluruh. Kesadaran akan kompleksitas manusia dalam proses belajar inilah yang kemudian melahirkan CANA (Collaborative Activation for Nurturing Awareness) sebagai ruang dialog akademik lintas disiplin.

Dalam perkembangannya, gagasan ini kemudian dibawa ke ruang akademik melalui kegiatan CANA International Academic Series 2026, yang diselenggarakan di Auditorium Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada 13 Maret 2026.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi akademik antara Program Studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (UM) dan Program Studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai tuan rumah.

Dialog akademik tersebut dibuka oleh Rektor Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya integrasi antara neurosains dan dimensi kemanusiaan dalam pendidikan.

Menurutnya, pendekatan neuroscience yang dikembangkan dalam kerangka CANA memiliki potensi untuk memperkaya cara pandang pendidikan yang lebih inklusif.

“Pendekatan neuroscience yang dikembangkan oleh tim ini mencoba mengintegrasikan pemahaman tentang kerja otak dengan bagaimana manusia berelasi dalam proses belajar. Pendekatan ini tidak hanya relevan untuk pendidikan khusus, tetapi juga untuk berbagai bidang pendidikan yang berkembang di Indonesia,” ujarnya.

Dalam sesi pengantar akademik, Prof. Dr. Syihabuddin, M.Pd. menyoroti pentingnya memahami pendidikan dari perspektif yang lebih mendasar. Ia menjelaskan bahwa berbagai persoalan pendidikan saat ini menuntut pendekatan yang tidak hanya berfokus pada metode pembelajaran, tetapi juga pada pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana manusia berpikir dan membangun kesadaran dalam proses belajar.

Ia menegaskan bahwa CANA bukan dimaksudkan sebagai metode pendidikan baru, melainkan sebagai pendekatan yang dapat melengkapi berbagai praktik pendidikan yang telah berkembang.

Sementara itu, Prof. Dr. Endang Rochyadi, M.Pd. menyoroti pentingnya memahami aspek regulasi emosi dalam proses belajar. Menurutnya, kondisi emosional peserta didik sering kali memengaruhi kemampuan mereka untuk belajar secara optimal.

Ia menilai bahwa berbagai prinsip dalam kerangka CANA memiliki keterkaitan dengan pendekatan pendidikan inklusif yang menghargai keberagaman peserta didik.

Dialog akademik ini juga menghadirkan para akademisi lintas disiplin yang merupakan mastermind dalam pengembangan gagasan CANA, yaitu Dr. Ranti Novianti, Dr. Muhammad Zein Permana, Dr. Jatmika Nurhadi, dan dr. Dennada Bagus Putra Perdana.

Keempat akademisi tersebut berasal dari bidang keilmuan yang berbeda, mulai dari pendidikan inklusif, psikologi pendidikan, neurolinguistik, hingga psikiatri. Melalui dialog lintas disiplin tersebut, mereka bersama-sama mengembangkan kerangka pemikiran CANA untuk memahami manusia dan proses pendidikan secara lebih utuh.

Dalam forum ini juga hadir Dr. Yoga Budhi Santos, dosen Pendidikan Khusus Universitas Pendidikan Indonesia sekaligus founder Rainbow Children Intervention and Learning Center, yang menjadi salah satu ruang praktik pendidikan inklusif tempat berbagai refleksi pendidikan yang kemudian memperkaya pengembangan gagasan CANA.

Melalui pertemuan antara praktik pendidikan inklusif dan refleksi akademik lintas disiplin tersebut, CANA berkembang sebagai ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif ilmu dalam memahami manusia dan pendidikan.

Dialog akademik ini menjadi tahap awal dari rangkaian CANA International Academic Series 2026, yang selanjutnya akan dilanjutkan dengan webinar internasional, kuliah umum, serta program diseminasi dan pelatihan bagi para pendidik.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut diharapkan gagasan CANA dapat terus berkembang melalui kolaborasi lintas disiplin untuk memperkuat praktik pendidikan yang lebih reflektif, inklusif, dan berkesadaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *